Adik Tiara: Nomor Telephone Kak Tedjo Berokap sih??

Adik aDik yang lucu lucu.. jumpa lagi dengan Kak Tedjo.. bagaimana, sudah kangen dengan kak Tedjo blum? Kak Tedjo menerima banyak sekali pertanyaan pertanyaan, sayang Kak Tedjo belum bisa menjawab semuanya. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang terpilih untuk dijawab. Bagi yang belum dijawab, sabar ya adik adik, Kak Tedjo janji pasti dijawab. sebelum membaca pertanyaan dari teman temanmu, mari kita duduk yang manis...

=================================================

On 8/29/06, tiara sianturi wrote:
Ka Tedjo yang baik,

saya mau tanya sama ka tedjo, kali ajah ka tedjo bisa menjawab pertanyaan yang sedang mengganggu dan merisaukan bahkan meresahkan pikiran saya sekarang ini.
Begini ka,
saya sering bingung, tiba tiba suka muncul dipikiran saya pertanyaan :
Tuhan agamanya apa yah??
kali ajah nihh ka tedjo bisa membantu saya.
terima kasih banyak loh kaaaaakkkk
*jingkrak2 karena kesenengan*

-tiara-
btw ga perlu samar2in nama saya yah, karena orang bilang, nama saya bagus.. terima kasih :)

KAK TEDJO:
Wah pertanyaan Dik Tiara yang sedang krisis iman ini sukses merepotkan kak Tedjo, bagus..bagus..bagus...
Kakak sudah tanya ke sana sini termasuk ke teman kak Tedjo yang kebetulan menjadi guru agama, A’a Zulkifli, dia juga susah menjawab, mereka bilang ini topik yang agak sensitive, bisa bisa menyulut kerukunan umat beragama.
Sebelum kak Tedjo lebih lanjut berpikir apa agamanya Tuhan, Kak Tedjo malah sempat berpikir apakah Tuhan punya agama? seng iseng Kak Tedjo ke toko buku, dan menanyakan ke mBak2nya apakah buku berjudul “Apakah Tuhan Itu Atheis?” karangan Soetedjo masih ada atau tidak.. eh, dengan sok tahu dia bilang “Kebetulan sudah habis, Mas”
Dalam hati Kak Tedjo berpikir, “Wah, ternyata saya sudah pernah mengarang buku, ga nyangka deh.. jadi bangga ama diri Kak Tedjo sendiri..”

Nah, Dik Tiara yang budiman.. eh, budiwoman.. mungkin jawaban lengkapnya ada di buku itu. Kamu cari saja ke toko buku yang stocknya belum habis.
============================================================

On 8/30/06, dannii wrote:
Kak tedjo, saya ingin menanyakan kenapa manusia tidak boleh memakan kotorannya sendiri, apakah ini hanya kesepakatan pada jaman dahulu saja, atau memang rasanya yang kurang lezat?...tp mengapa ikan2 di empang berebutan untuk memakan kotoran kita, berarti kan ini menunjukkan kelezatan dari kotoran manusia bukan??
mohon pencerahannya Kak !

danny, 19

KAK TEDJO: Wah, apakabar Dik Dannii? Semoga kabarnya baik baik saja.. pertanyaan dik Dannii jadi mengingatkan kakak pada teman teman kakak yang tergabung dalam Geng Taik. Gini-gini dulu Kakak juga anak Geng lho..
Ya! Manusia tidak boleh makan makanannya sendiri karena hasil indoktrinasi nenek moyang kita, yang konon katanya pelaut itu. Mereka berpikir, wah kalau cucu moyang kita nanti makan taik sendiri, bisa bisa kerjanya hanya tidur-berak-makan taik-seks-berak-makan taik-tidur-berak-makan taik-seks, dan tidak akan pernah menemukan api, karena taik nggak harus dimasak.
Jadi pertanyaan kamu yang mana sih? Kenapa manusia tidak boleh memakan kotorannya sendiri, atau apakah kotoran kita lezat atau tidak? Lain kali jangan memberikan pertanyaan beruntun yah, kasihan teman teman kamu yang antri minta dijawab.
Yang jelas kak Tedjo tidak bisa memastikan kalau rasanya kurang lezat, karena selain kak Tedjo belum pernah mencoba, Kak Tedjo juga belum bisa berbahasa ikan kayak si Deny Manusia Ikan, jadi belum pernah nanya ke ikan ikan itu.

Terima kasih yah, nenek moyang.. karena kalian, kita bisa punya blog.
======================================================

On 8/31/06, tiara sianturi wrote:
Dear ka tedjo..

ini surat saya yang kedua ka,
yang pertama belum di jawab, mungkin ka tedjo sibuk sekali yah menjawab pertanyaan dari teman2 saya yang lain..
gpp kok ka.. saya mengerti
yang ingin saya tanyakan nih,
umur ka tedjo berapa sih?
ka tedjo sudah menikah atau belum?
terus ka tedjo lulusan mana?
(boleh sebutin dari tk - perguruan tinggi mana)
kali ajah selidik punya selidik ternyata ka tedjo satu almamater sama saya di sekolah saya ini..

KAK TEDJO:
Lho.. khan kak Tedjo sudah jawab pertanyaan kamu tentang agamanya Tuhan.
Tentang umur, status, dan almamater Kak Tedjo, lebih baik kamu kirim saja dulu foto kamu dan nomor telepon kamu, mungkin kalau kamu juga bersedia nraktir kak Tedjo, kakak akan dengan senang hati menjawab pertanyaan kamu.
================================================

On 8/30/06, Jalu Prakosa wrote:
Kak Tedjo, saya senang sekali nih melihat blog dan milist Kak Tedjo. Menurut saya bagus sekali kalau ada orang yang cerdik cendekia mau berbagi pengetahuan dengan kita kita. Walaupun saya tidak begitu yakin jawaban kak Tedjo bener atau tidak, tapi saya menikmati jawaban jawaban tersebut. Kebetulan saya punya pertanyaan juga nih, Kak: “kenapa ya kalau kita dalam perjalanan pulang kok sepertinya lebih cepat dari pada kita pergi?” terima kasih sebelumnya!

KAK TEDJO:
Dik Jalu, terima kasih atas pujiannya… Kak Tedjo jadi malu sendiri nih.
Langsung saja ya kak Tedjo jawab. Ada beberapa alasan dan jawaban kenapa kita merasa perjalanan pulang terasa lebih cepat.
1. Kalau kepercayaan di Riau, katanya setiap kali kita meninggalkan rumah, roh roh alam (pohon, batuan, tanah, dll) bertanya pada roh kita “Oii, hendak kemana?”, sehingga kita menyempatkan diri untuk melayani pertanyaan tersebut. sedangkan saat kita pulang mereka tidak lagi bertanya “darimana?”, sehingga perjalanan pulang menjadi lebih cepat.
2. Menurut kak Tedjo sendiri, hal ini lebih disebabkan karena setelah kita pulang, kita sudah tahu direksi, jarak, serta waktu tempuh dibanding saat kita berangkat. Saat berangkat, kita belum tahu, sehingga kita cenderung berharap harap cemas sambil bertanya “kapan nih, kapan nih, apakah sudah sampai?” Jadi ini sifatnya hanyalah psikologis relatif, bukanlah realita.
3.Mungkin juga saat kita pulang, hari sudah malam, jadi tidak lagi macet.
4.Atau dik Jalu mungkin lewat jalan motong, jadinya lebih cepet, gitu lhow..
5.Kemungkinan lain adalah waktu pergi dhik Jalu naik bemo, pulangnya naik taksi.
6.Atau mungkin Dhik Jalu sedang mau nganterin gebetan dhik Jalu, jadi waktu berjalan serasa lebih cepat,lantaran tak ingin cepat berpisah.. (halah!!)

Gimana, Dik Jalu? Semoga mulai sekarang kamu bawa saja stopwatch untuk membandingkan perjalanan kamu.

================================
Untuk Adik adik yang pertanyaannya belum dijawab, sabhar ya, Kak Tedjo pasti akan jawab kok.. bagi yang masih belum bertanya, ayo jangan malu malu kirim pertanyaan kamu ke kak.tedjo@gmail.com . kalau malu malu bertanya, nanti bangsa kita nggak maju maju lantaran tunas bangsanya malu bertanya. lebih baik kita tidak tahu menjadi tahu karena bertanya, daripada menjadi sok tahu karena malu bertanya. camkan itu, adik adik.



No comments: